Sabtu, 05 Maret 2016

Ngobrol soal Sukses



Setiap orang pasti mempunyai definisi sukses yang berbeda satu sama lainnya. Cici dan boy saja mempunyai jawaban yang berbeda saat saya menanyakan hal ini kepada mereka lebih dari setahun yang lalu.

Hari ini si boy dapat undangan ulang tahun dari temannya. Dan nanti sore kita ada rencana untuk ke Gereja, seperti setiap hari Minggu lainnya yang biasa kita lakukan. Hhhmmm artinya saya harus bisa memberi pelajaran atau bimbingan kepada cici dan boy lebih awal dari baisanya, itulah yang ada di pikiran saya sesaat saya terbangun dari tidur di pagi tadi.

Apa yang akan saya berikan dan bimbing buat mereka yahhh?? Pertanyaan lainnya yang hinggap di pikiran saya pula. Ahhaaa bagaimana kalau saya ajak mereka ngobrol soal sukses saja hari ini.

"Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata sukses??" tanya saya kepada cici yang berusia 12 dan boy yang berumur 7 tahun ini. "Punya kerjaan yang bagus, rumah yang besar dan banyak uang" jawab si cici. "Ada lebih dari satu mobil, bisa jalan-jalan setahun sekali ke luar negeri atau keluar kota dan punya good wife" si boy melengkapi jawaban cicinya ini. "Hmm kenapa kamu memberi opini sukses seperti itu??" gali saya lebih dalam. "Karena mami dan daddy seperti itu dan kita mau seperti mami dan daddy" cici dan boy saling melengkapi memberi inti jawaban seperti ini. "Woow thanks sudah di bilang sukses deh sama kalian...tapi sukses kan bukan selalu materi" saya mulai memberi arahan kepada mereka. "Karena kamupun bisa sukses saat ini juga kan" saya meneruskan.

"Achieved and finsihed our tasks" si boy langsung memberi jawaban setelah mendengar clue dari saya. "Yup sukses bisa dikatakan seperti itu...coba kasih contoh dari sukses yang telah kamu raih" saya memuji jawaban si boy tapi ingin lebih jauh mengetahui pola pikir dan pola hati dia ini. "Saat saya menyelesaikan tugas menulis yang daddy berikan walau saya tidak suka menulis" dia memberi contoh. "Hhhmm apa itu sukses ci??'" saya menantang si cici untuk memberi opini. Si cici mengangguk setuju tapi rada ragu-ragu. "Karena daddy akan tanya, kenapa kamu jawab begitu" si cici memberi jawaban ketika saya tanya kenapa dia menjawabnya ragu2. "Loh bukannya abgus kalau daddy tanya begitu??" saya balik bertanya ke cici. "Artinya daddykan mau tahu dan mau mendengar apa opini kamu tanpa memberi penilaian benar2 atau salah dari jawaban kamu" saya memberi penjelasan kepada dia. "Percaya ci dan boy, tidak semua orang tua bisa meluangkan waktu untuk berdiskusi atau juga mendengar opini dari anak-anak mereka lho...dan daddy rasa kamu beruntung karena daddy mau dan berusaha untuk selalu meluangkan waktu untuk hal penting ini" saya melanjutkan.

 "Ok balik kepada komen si boy tadi yang soal dia bisa menyelesaikan tulisannya karena terpaksa...menurut daddy itu yang bisa menilai sukses atau tidaknya yah hanya si boy sendiri" saya mengembalikan topik ini. "Kenapa?? Karena dialah yang tahu apa yang dilakukannya itu telah melalui beberapa langkah atau tahap untuk menjadi sukses atau tidak" saya mulai mengarahkan dan menanamkan suatu pelajaran buat mereka.

"Tahap untuk menjadi sukses yaitu tahu target yang ingin kamu capai, buat rencana-rencana untuk mencapainya, pilih yang terbaik serta yang positif dan resiko terkecil dari rencana-rencana yang telah kamu buat, jalankan rencana yang telah kamu buat, evaluasi yang telah kamu buat dan belajar dari sini pula untuk bisa menjadi lebih baik...." saya menjelaskan tahap-tahap untuk sukses yang saya maksud sebelumnya.

"Seberapa kecilpun sukses yang kamu telah raih...akan memberi kepuasan tersendiri. Dan semakin sering kamu meraih sukses berarti kamu menjadi orang yang lebih baik setiap kalinya" saya memberikan gambaran tentang reward yang akan mereka dapatkan dari sukses yang telah mereka usahakan. "Nah sekarang kamu tuliskan apa yang kamu pelajari dari sukses yang telah kita bicarakan ini" saya memberikan tugas kepada mereka berdua sebagai evaluasi dari apa yang saya telah bimbing dan ajarkan kepada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar