Minggu, 14 Februari 2016

Minta Cellphone

"Daddy kapan saya boleh punya cellphone??" tanya si boy tiba-tiba ketika saya sedang baca internet minggu lalu.  Hhhmmm pertanyaan ini sama persis yang si cici dulu tanyakan saat dia berusia kurang lebih sama saat si boy saat ini (9 tahun).

"I am just asking" lanjut perkataan dia tadi. Saya mengerti kenapa dia langsung bilang begitu, karena seperti biasa saya selalu akan bertanya apa alasannya dia bertanya demikian.

"Memangnya kenapa boy??" saya tetap bertanya walaupun dia sudah mengatakan kalau dia hanya mau tahu saja. Dan memang dia menjawab seperti yang sudah dia katakan tadi kalau dia hanya mau tahu saja soal ini. Nah pertanyaan saya selanjutnya yah menanyakan apa pendapat dia akan pertanyaan dia tadi.

Tentu saja dia menjawab kalau belum saatnya dia mempunyai cellphone untuk saat ini. Tentu saja saya tidak berhenti sampai di sini. "Kenapa kamu mengatakan demikian??" pertanyaan selanjutnya buat dia. "Karena saya belum membutuhkannya" dia memberi jawaban. "Nah kamu tahu itu kan" saya mulai memberi penjelasan.   

"Daddy happy kamu bertanya dan meminta tapi daddy sama mami mempertimbangkannya tergantung dari apa yang butuhkan atau tidak" saya melanjutkan. "Kalau kamu membutuhkannya, saat ini juga daddy akan beliin tapi kalau kamu tidak perlu yah tentunya tidak akan langsung di beliin" kata saya lagi.

"Kamu tahu kenapa daddy beliin kamu tablet tapi tidak cellphone??" saya menantang dia lagi. Tentu saja dia diam karena bingung mau menjawab apa buat pertanyaan saya tadi. "Tablet kamu bisa pakai buat belajar dengan searching or reading something from internet atau juga kamu bisa main game buat entertain kamu, sedang cellphone kamu belum dapat pergi atau di tinggal sendiri, jadi kalau daddy mau telpon kamu...daddy hanya perlu telpon ke orang yang sedang menjaga kamu saat itu" saya memberi penjelasan. "Yang pasti daddy sama mami sudah observe kalau kamu sudah bisa di kasih responsibility dan wise untuk menggunakan serta menjaganya" kata saya lagi. "Kalau kamu sudah membutuhkan cellphone dan tablet kayak cici, tentu mami sama daddy akan belikan juga keduanya buat kamu" saya meyakinkan dia.

"Sekarang kamu tahu kalau daddy dan mami observe semua kebutuhan kamu dan akan berusaha untuk memenuhinya dan terus mengawasi kamu dalam penggunaanya pula" saya menjanjikan. "Tentu saja sekali-sekali daddy dan mami juga kasih apa yang kamu minta sebagai rewards kalau kamu good boy, iya kan??" kata saya sembari mencolek tummynya, yang tentu saja membuat dia ketawa dan marah karena di godain sama saya.



Senin, 08 Februari 2016

Kenalan dengan Diri Sendiri??



Kenalan sama diri sendiri?? Tidak salah nih pertanyaannya?? HHhmmm kalau di balik pertanyaannya, memangnya sudah kenal diri sendiri?? Jujur sih belum karena masih banyak yang masih perlu di gali lebih jauh lagi potensi yang ada di dalam diri saya sendiri.

Belajar mengenal diri sendiri. Pernyataan yang menggelitik dari film KungFu Panda 3. Yup, kemaren saya sempat menonton film ini bersama cici dan boy. Seperti biasa, sehabis nonton film saya selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan buat mereka. Dan merekapun sudah tahu kebiasaan dari daddynya ini. Kadang kala saya bertanya setelah filmnya selesai tapi kadang pula saya bertanya pas malam harinya saat mereka mau tidur atau  keesokan harinya sebagai pelajaran tambahan buat mereka. "Kamu senang tidak nonton film itu??" tanya saya kepada mereka saat dalam perjalan pulang dari beli sepatu mereka. Dan tentu saja mereka berdua mengiyakan pertanyaan saya tadi. "Kenapa kamu suka??" pertanyaan saya selanjutnya. "Soalnya itu funny" jawab boy cepat. "Karena membawa pesan yang bagus" jawab cici. "Pesan apa yang bagus menurut kamu?" cici melanjutkan kalimatnya dengan mengucapkannya di buat silly (lucu-lucuan), yang sebenarnya meledek saya. Yup apalagi kalau bukan karena dia sudah tahu akan ada pertanyaan seperti itu dari saya, sehingga sebelum saya bertanya...dialah yang menanyakannya sembari menggunakan nada bicara yang lucunya ini.

"Belajar menjadi dan mengenal diri sendiri" jawaban  mereka berdua hampir bersamaan buat pertanyaan mengenai pesan apa yang bagus menurut mereka dari movie ini. "Apa pentingnya menjadi dan mengenal diri sendiri??" tanya saya selanjutnya. "Kita bisa tahu apa kelebihan dan kekurangan kita" jawab mereka yang intinya sama, tentu saja setelah saya bantu dan kasih clue pula. "Bagaimana bisa mengenal diri sendiri??" pertanyaan selanjutnya dari saya. Tentu  saja bukan pertanyaan yang mudah buat mereka, apalagi si boy yang berusia 9 tahun saja."Pernah dengar self assessing??" tanya saya kepada mereka. Jujur kaget tapi senang juga mendengar jawaban mereka yang ternyata mereka sudah melakukannya, walau mereka di Primary school (SD). Akhirnya kita membicarakan sedikit banyak mengenai self assessing ini bersama.

"Bagaimana  reaksi kamu kalau ada yang tidak suka dengan diri kamu??" pertanyaan  inilah yang saya tanyakan selanjutnya. "It doesn matter" jawab si boy cepat. "Kenapa??" saya tergelitik mendengar jawaban dia ini. "Karena tidak semua akan suka dengan kita" kali ini cici membantu little brothernya ini. "Good answer guys" puji saya buat mereka. "Tapi kalau ada kritik yang membuat kita bisa menjadi lebih baik, tentu harus di pertimbangkan juga kan" saya memberi masukan kepada mereka, setelah menjelaskan apa arti kritik itu buat si boy.

"Improvements and Initiatives start with I (di Indonesiakan menjadi kemajuan dan inisiatif  harus dimulai dari diri kita sendiri. )" statement yang suka dan sering pakai untuk memotivasi mereka. "Kalau kita bisa mengenal dan  menjadi diri sendiri kita bisa mempunyai insiatif untuk bisa menjadi lebih baik." saya menanamkan pesan buat mereka. "Dengan  berkomunikasi dan berinteraksi dengan kamu berdua, daddy sama  mami bisa menjadi lebih tahu siapa kamu dan bantu kamu untuk menjadi lebih baik juga" janji saya buat mereka. 



Senin, 25 Januari 2016

Takut Berbuat Salah

Mengajari anak tentu bukan perkara mudah. Menyuruh mereka belajar saja kadang suka pakai di ocehin dulu apalagi saat mereka belajar dan tidak bisa-bisa. Nah yang paling nyebelinnya lagi saat mereka takut berbuat atau menjawabnya salah.

"Daddy is this right??" tanya si boy. Padahal baru saja saya bantu dia menjawab soal matematika yang serupa sebelumnya. "Boy, kamu kerjain saja semuanya dulu and do the best that you can, nanti baru daddy check dan bantu kamu kalau ada yang salah" kata saya berulang kali ke dia setiap dia baru selesai jawab 1 pertanyaan saja.

"Aku tidak tahu mau tulis apa??" kali ini contoh lainnya saat si boy belajar menulis. "Yah kamu yang tentuin maunya tulis apa, kan daddy sudah kasih saran buat topiknya" jawab saya ke dia. Setelah dia menulis tentu saja ada beberapa kata yang mungkin dia kurang tahu atau lupa bagaimana harus menuliskannya dan kemudian dia tanyakan ke saya. Tentu saja jawabannya yah dia harus mencobanya dulu dan setelah selesai baru saya cek dan bantu untuk perbaiki. 

Takut berbuat salah. Inilah salah satu sebabnya si boy banyak bertanya ke saya. Rasanya wajar sekali perasaan si boy ini karena kita pun sebagai orang dewasa juga suka takut salah. Di tempat kerja, kita pun juga suka takut salah dalam mengambil keputusan. Bagaimana kalau keputusan kita salah?? Pertanyaan ini sama dong seperti apa yang di takutkan si boy saat belajar. ahhh tinggal mengakuinya saja kalau kita salah dan belajar dari kesalahan ini dan kalau masih bisa di perbaiki, yah perbaiki secepatnya termasuk dengan meminta bantuan dari orang lain kalau perlu.

Berani mengambil keputusan, inilah yang membedakan mentalitas atasan dari bawahan. Sebagai atasan kita di latih untuk berpikir berpikir lebih luas dan menerka hasil dari keputusan yang kita buat dan lakukan, sedangkan sebagai bawahan kita hanya menjalankan keputusan dari apa yang atasan kita sudah buat.


Saya memang selalu men challenge cici dan boy untuk tidak takut berbuat salah. Kenapa?? Karena memang saya selalu melatih mereka menggunakan otak/logika mereka dalam berpikir dan juga hati dan perasaan mereka dalam bertindak...sebelum mereka benar-benar mengambil keputusan yang terbaik buat mereka sendiri maupun orang lain.

Rasanya setiap orang pasti kesal dan sering pula menyesal telah berbuat salah. Namun sebenarnya tidak adanya salahnya koq berbuat kesalahan selama kita telah memikirkan dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik di awalnya, dan terutama mau bangkit dan berusaha untuk memperbaikinya.


 
 kesal dan sering pula menyesal telah berbuat salah. Namun sebenarnya tidak adanya salahnya koq berbuat kesalahan selama kita telah memikirkan dan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik di awalnya, dan terutama mau bangkit dan berusaha untuk memperbaikinya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/marchsell/jangan-takut-berbuat-salah_552fc0826ea834ba2f8b45e2

Because You're Worth It


Ini bukanlah tulisan untuk promosi salah satu kosmetik lho tapi merupakan salah satu pembelajaran dari kami buat cici dan boy saja supaya bisa berpikir lebih dewasa untuk kepentingan mereka pastinya. Perbincangan saya dengan cici dan boy ini sebenarnya sudah lama sekali namun saya dan mami masih tetap dan terus menggunakan kalimat ini sebagai motivasi buat mereka.

Because you're worth it. Ini slogan yang kami rasa bagus untuk memotivasi cici dan boy. Kami sering menggunakan kalimat ini buat mereka, membuat mereka menyadari akan talenta-talenta yang mereka miliki dan mereka bisa serta mau mengembangkannya untuk mereka sendiri, sesama dan juga lingkungan. Anak-anak mana sih yang mau kalau disuruh belajar...pastinya mereka mau nya main. 

Ok saya setuju itu, tapi cepat atau lambat mereka juga perlu belajar. Kami sering menggunakan metode bermain sambil belajar pula koq, namun ada saatnya mereka memang harus belajar yang benar-benar belajar. Nah saat-saat seperti beginilah yang membuat orang tua harus lebih memutar otak supaya anak-anak tetap mau belajar pula. "Kenapa sih aku harus belajar daddy??" kata si boy kepada saya suatu saat. "Karena daddy sama mami mau kamu bisa independen dan berharga nantinya" jawab saya. "Koq nantinya bisa independen dan berharga dari belajar daddy??" kali ini cici yang bertanya. " Kalau kamu mau jadi chef kayak mami misalnya, kamu musti belajar masak kan. Setelah bisa masak baru ada yang mau hire kamu untuk kerja. Dari kerja ini kamu mempunyai harga dan bisa mandiri kan" saya menjelaskan yang simple tapi terarah buat mereka. "Setelah kamu kerja dan mempunyai gaji atau harga awal dari pekerjaan kamu...kamu juga harus terus belajar tidak??' tanya saya kali ini ke mereka. "Iya" jawab cici dan boy serempak. "Kenapa??" tanya saya penasaran. "Karena daddy sama mami selalu bilang untuk terus belajar" jawab boy jujur. "Kalau kamu ci??" saya menunggu jawaban cici. "Karena jadi bisa masak untuk masakan lainnya" jawab dia akhirnya. 

"Betul dan hebat sekali jawab cici dan boy daddy ini" saya memuji akan pendapat mereka berdua. "Kalau kamu cuma bisa misalnya cuma 1 jenis masakan saja dan setelah itu kamu males.. makanya kamu akan stuck di situ saja atau dengan kata lain kamu tidak bisa improve. Kalau kamu bisa improve yourself to make it better...harga kamupun akan naik. Misalnya tadinya kamu cuma staff waktu awalnya...setelah kamu bisa improve and better kamu bisa jadi team leader. Kalau kamu improve terus kamu bisa jadi managernya" saya menambahkan. 

"Jadi kita belajar supaya bisa jadi manager??" tanya si boy lagi. "Betul boy...tapi bukan hanya manager di kerjaan saja tapi terlebih lagi manager buat diri sendiri" saya menjelaskan lagi. "Maksud daddy??" tanya si cici. "Kamu tahu apa manage itu kan??" tanya saya ke mereka. Mereka berdua mengangguk tanda setuju. "Jadi kamu bisa me-manage diri kamu sendiri. Contohnya kamu langsung bisa help mami to prepare for our dinner, terus help taruhin dishesnya yang sudah di keringkan, kemudian ready untuk belajar sehabis dinner tanpa harus di bilangin sama mami atau daddy dulu, dan seterusnya. Kalau kamu bisa manage itu semua...kan kamu sudah jadi manager for yourself...iya nggak??" saya menjelaskan buat mereka. 

"Jadi dari belajar itu banyak sekali manfaatnya...kamu jadi bisa tahu dari tidak tahu, dari tahu kamu bisa mandiri dan dari mandiri kamu bisa jadi manager for yourself. Kalau kamu sudah ada semua value itu dalam diri kamu maka kamu akan menjadi sangat berharga" saya menambahkan. "Untuk bisa jadi berharga ini harus dimulai dari diri kamu sendiri. Daddy sama mami cuma bisa guide kamu untuk ini...dan rasanya akan worth it buat mami sama daddy kalau kamu nantinya bisa worth it for others too" saya menanamkan yang kami harapkan kepada mereka.

Minggu, 24 Januari 2016

Fat Angel


Cici dan boy punya nama khusus dari saya saat saya meledek mereka, begitupun saya mendapat nama khusus dari mereka. Fat Angel. Yup itulah nick name saya dari ke cheeky monky dan cheeky mbek saya ini. Kenapa bisa jadi fat angel?? Yah ceritanya bisa lihat di bawah ini. 

"Dasar nih the cheekiest ba ba bleketek angel in the whole world" kata saya sembari belaga marah ke si boy yang selalu menggodain saya. "Nih juga the silliest mbek angel on earth" ledek saya ke si cici yang juga lagi ikutan si boy ngegodain saya. 

Yup...sejak saya menceritakan Bertemu Malaikat kepada mereka hampir 3 tahun yang lalu...saya sering menggunakan istilah angel atau malaikat ini kepada mereka. Tapi tentunya dengan embel-embel sembari meledek sebagai cara untuk bisa lebih mendekatkan diri dengan mereka. Tentu saja senang dan bahagia sekali bisa mempunyai 2 orang teman yang bisa di ajak bermain, saling menggoda, saling ber silly ria, dsb.

Yang membuat setiap hari selalu berwarna karena kehadiran mereka. Dari yang kadang membuat marah karena berantem setiap hari, membuat tersenyum karena melihat dan mendengar mereka saling berargumentasi dan tidak mau kalah satu sama lainnya, merasakan hangatnya cinta mereka setiap kali mereka memeluk,mengatakan sayang dan memberkati saya di saat malam sebelum mereka tidur dan juga komen atau kritikan mereka buat saya setiap harinya. 

"Jadi malaikat yang baik adalah malaikat yang bisa marahin atau kritik kamu di saat kamu salah, menghibur kamu di saat kamu sedih, memotivasi kamu di saat kamu jatuh, mendorong kamu biar kamu bisa lebih baik, bisa funny, silly, cheeky dsb...biarpun malaikatnya fat kayak daddy" saya mendeskirpsikan malaikat kepada mereka sembari merefer ledekan mereka kepada saya yang tentunya membuat mereka senang karena bisa menambah daftar nama ledekan untuk daddynya sebagi funniest fat angel mereka. 

Beruntungnya si cici dan boy bisa ketemu fat angel setiap hari yahhhhhh :) :)



Gimana Ngomongnya??


Si cici punya rencana tahun ini untuk bisa melakukan kerja volunteer. Selain karena dia ingin mendapatkan pengalaman bagaimana rasanya kerja dia juga ada target untuk bisa mendapatkan salah satu badge dari salah satu program yang di adakan di sekolahnya. Tentu saja saya dan mami mendukung sekali rencana dan target dia ini dan memberikan beberapa saran pekerjaan apa saja yang bisa dia lakukan untuk kerja volunterrnya dia ini. 

"Hi I am just wondeirng if i can do voluntery work here (Hi, Saya numpang nanya bisa tidak saya kerja di sini)??" tanya si cici beberapa hari yang lalu kepada seorang nenek yang lagi menunggu di bagian resepsionis di salah satu non-profit organisastion punya pemerintah, yang menjual pakaian-pakaian maupun peralatan rumah tangga buat orang-orang yang kurang mampu di kota kami. Ternyata pertanyaan cici ini tidak di tanggapi dengan baik oleh si nenek dan di tolak dengan alasan dia masih di bawah umur. "Nanti kamu coba ke perpustakaan saja sama daddy" saran si mami kepada saya. "Ya sudah besok kita ke perpustakaan yah" saya menyetujuinya.

 "Kamu tahu gak apa yang kamu mau tanyain nanti??" tanya saya ke dia sesaat sebelum kita mau pergi ke perpustakaan tadi pagi. "Iya" jawab dia. "Ok kasih tahu daddy bagaimana kamu mau ngomongnya??" tanya saya lagi. Dari sinilah saya tahu bagaimana dia berbicara kepada si nenek, beberapa hari lalu itu.


"Hhhhmmm kamu baiknya menggunakan yang lebih baik dari itu" saya memberi tahu dia. "Pertama kamu kasih salam ke orang yang kamu temui pertamakali, tentunya di tambah senyumanlah" saya mulai memberi pengarahan. "Kemudian kamu sebut dari sekolah mana kamu ini dan apa tujuan kamu ke sini" lanjut saya. "Kamu tahu nggak kenapa daddy kasih saran begini" tanya saya lagi.

Setelah bertukar pikiran dan menjelaskan dia pun mengerti. "Thanks yah daddy sudah bantuin dan temenin aku dapatin kerjaan ini dan juga berbicara dengan managernya" kata si cici kepada saya. "That's ok ci, daddy will always help you if you want to help yourself too (Tidak masalah ci, daddy akan selalu membantu kamu kalau kamupun mau dan bisa membantu diri kamu sendiri juga)" jawab saya.

 "Bagaimana menurut daddy saat wawancara tadi??" dia bertanya lagi. "Daddy bilang kamu sudah bagus tapi tentunya ada beberapa hal yang kamu bisa perbaiki, seperti kamu harus bisa jual diri kamu dengan memberi info kepada dia walaupun dia belum tanya" jawab saya sembari memberi beberapa tips buat dia. 

Biarpun cici sudah 14 tahun, bukan berarti saya dan mami membiarkan dia untuk menentukan jalannya sendiri. Karena dari pengalaman ini (dan sebelumnya juga), kamipun masih harus membimbingnya walaupun dalam hal berbicara saja. Jadi bukan hanya anak-anak saja yang harus terus di ajak berkomunikasi dan bertukar pikiran, karena remaja pun masih tetap dan terus bahkan rasanya harus lebih intens biar mereka bisa lebih baik lagi. Siapa lagi yang bisa membimbing dan mendidik buah hati kita kalau bukan kita orangtuanya bukan??